May 05, 2006

Sang jenglot tak lagi dirumah kami

Tak tahu dari mana rimbanya, manusia jenglot tiba-tiba saja sudah ada di rumah kami. Keluarga kami yang lain memandangnya dengan penuh takajub, karena selama ini mereka memang belum pernah melihatnya. "Wow seluruh badannya bertato, lho," jerit adik saya.

Dari hari ke hari, perbincangan kami selalu diwarnai dengan ulasan mengenai manusia jenglot ini. Hampir rata-rata anggota keluarga kami kurang menaruh respek padanya, hanya ada salah satu keluarga kami yang jadi tergila-gila padanya. Padahal ketika pertamakali tahu kehadirannya ia sangat tidak peduli dan terkesan memusuhi.

Minggu pertama setelah kedatangan manusia jenglot, baru saya tahu bahwa kedatangannya memang bukan atas inisiatif bapak dan ibu. Menurut sumber-sumber yang tak mau disebutkan namanya, ia sengaja didatangkan oleh pihak ke tiga, tepatnya keluarga jauh kami. “Anak-anak..,” suatu malam bapak yang didampingi ibu membuka pembicaraan di ruang makan. “Kamu tahu kan pakde Farid Kerpo yang paranormal di Pondok Gundah?” katanya di suatu malam.

Selanjutnya secara panjang lebar bapak menguraikan latar belakang, tujuan dan goal attainment-nya (hasil akhir yang akan dicapai). Menurut bapak, kekayaan keluarga kami perlu dilindungi. Ini semua dilakukan agar kelak kami anak-anaknya dapat mewarisinya. Bapak meyakinkan bahwa dengan memelihara jenglot, usahanya jadi lancar dan kekayaannya akan bertambah ruah. “Kata pakdemu, jenglot itu sangat pintar nyari duit, lhe,” katanya kepada saya, saat berdua di beranda depan, suatu petang. Saya hanya diam seribu bahasa, tak menanggapi ocehan bapak. Sementara di kepala saya sebenarnya telah tersedia banyak counter-attack yang bisa langsung menohok statemen bapak.

Bagaimana mungkin manusia jenglot bisa menjaga kekayaan, wong dirinya sendiri kini lagi nyari kekayaan dan masih doyan makan nasi-bukan kembang menyan? Bagaimana mungkin ia pinter nyari duit, wong pengalaman dan kepintaranya juga masih di garis rata-rata? Bapak rupanya lupa bahwa lima orang anak-anaknya adalah lulusan perguruan tinggi dengan jam terbang kerja yang juga tinggi. Tapi susah memang mengubah mind state bapak yang sudah kadung haqulyakin.

Sekedar berkompromi dengan kemauan bapak, akhirnya kami menurutinya. Ceritanya kami, dalam segala hal harus tunduk pada kemauan manusia yang didatangkan bapak itu. Sebulan dua bulan belum kelihatan, kami pun masih sabar menunggu. Waktu hampir berjalan satu tahun, kekayaan bapak tergerogoti namun tak menjadikan kesadarannya terusik. Kami semua hanya bisa mengelus dada dan prihatin menghadapi situasi ini. Secara pribadi saya menemukan, bahwa jenglot ini makin lama makin besar kepalanya. Ini karena bapak terus saja memperlakukannya dengan baik. Sering saya pergoki, bapak berdua dengannya minum kopi sambil mengintip gadis-gadis kampung yang sedang mandi di kali. Pernah pula tetangga kami beberapa kali menemukan mereka sedang bersenang-senang di diskotik, panti pijat dan arena lokalisasi kota karesidenan yang letaknya 30 km dari kampung kami.

Kami anak-anaknya tak bisa mengubah tabiat bapak untuk tidak melakukan maksiat, karena konon itu menurun dari kakek bapak. Untung kami berlima tidak otomatis terjangkiti tabiat yang memuakkan itu. Secara genetis biologis kami memang anaknya tetapi secara skeptis ideologis kami tak lain adalah musuhnya.

Setelah berjalan dua tahun, segenap anggota dewan kehormatan yang terdiri dari anak-anak, tetua, dan para profesional yang disewa bapak, mengadakan evaluasi. Diperoleh kesimpulan bahwa sejak bapak memelihara jenglot, harta kekayaan bapak berkurang lebih dari 400 milyar. Mengetahui hal itu, bapak tampak sok, hatinya hancur, segala rencana ke depan di bidang investasi jadi kandas. Yang tak kalah ketiban apes adalah kami. Dua tahun tak menerima bonus.

Kami hanya saling pandang ketika tanpa tahu dari mana masuknya, si jenglot itu sudah berada di tengah-tengah kami. Hampir saja kami membantainya bareng-bareng dan membuangnya ke laut namun dari arah belakang terdengar suara bapak, “Namanya juga manusia, nggak ada sempurnanya,” katanya, coba mendinginkan suasana panas dari bara api di kepala kami. “Sudah tahu bikin ancur, kenapa pula bapak masih memeliharanya, sih?” sergap adik saya, sedikit kasar.

Bapak tampak diam dan dalam hati sebenarnya tersembul rasa kasihan tapi tak kami perlihatkan. “Dulu sebelum bapak memelihara jenglot, usaha kita lancar. Kami semua lebih kompak, suasana persaudaraan kami sangat menyenangkan dan adem ayem. Kenapa bapak lebih percaya jenglot daripada anak sendiri untuk memimpin armada rumah tangga ini?” hardik adik yang lain, tak kalah sengitnya.

Lagi-lagi bapak tampak terpojok di sudut ruangan tempat kami berkumpul. Mendengar percakapan yang panas ini si jenglot kemudian urung ke belakang. Kami kemudian dikejutkan oleh suara tangis sesenggukan seseorang. Kami mengira itu tangis ibu tapi setelah mendekat barulah kami tahu bahwa si jenglot tengah berjalan sambil membawa surat pengunduran diri dan lalu menyerahkannya kepada bapak di hadapan kami. “Iya, kamu memang pantas mengundurkan diri karena sejak kamu di sini kami terus merugi,” kata bapak, tak semanis seperti dulu lagi.

Pagi hari-bulan ke dua puluh enam, bapak dan ibu memanggil kami ke ruangan tengah. “Maafkan bapak, anak-anakku, selama ini bapak salah pilih,” katanya, datar sekali.”Ini semua gara-gara bujukan pakdemu Farid Kerpo itu,” katanya memberi alasan. Bapak tidak benci dan tidak akan memperkarakan si jenglot meski bapak tahu, hartanya telah berkurang drastis dan banyak aset-aset yang diselewengkan selama ia di rumah kami. Sebelum rapat keluarga ini bubar ibu dengan tulus mewanti-wanti agar kami selalu baldatun thoyyibatun wa robbun gofur. (berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya,-red.)

Baru tiga langkah kaki saya beranjak dari ruangan, ibu tiba-tiba menggamit tangan saya sambil membisikkan sesuatu yang menyejukkan hati. “Sakabehing dumadi yen wis tumekaning wates kodrate mesti bakal mulih marang mula-mulanira lan sirna." (Kalau sudah sampai waktunya, segala sesuatu di dunia ini akan kembali ke asalnya dan sirna). "Saya tahu pasti bu, jenglot juga manusia dan ia akan kembali ke asalnya, sirna ditelan bumi!", kata saya, tak kalah filosofis.

May 03, 2006

ARTI PENTING SEBUAH LOGO

(Tulisan ini semata-semata hanya pemindahan dari tulisan di majalah (saya lupa majalahnya dan penulisnya). Untuk itu jika suatu saat, Anda (penulis) menemukannya di sini harap jangan marah. Tulisan ini saya sebarkan sekedar untuk menambah referensi bagi saya pribadi dan mungkin rekan-rekan saya yang sudi membaca tulisan ini. Terima kasih, lho pak! Kulo: Alex...hehe.
Logo merupakan penyajian grafis yang akan menjadi “wakil” perusahaan dalam otak khalayak. Ketika khalayak dihadapkan pada suatu bentuk grafis tertentu sebagai sebuah stimulus, otak akan memberi makna melalui asosiasi dengan atribut-atribut tertentu. Inilah yang membentuk citra (image), jika “bentuk grafis” (logo) itu mrpk wakil sebuah perusahaan. Itulah yg disebut corporate image. Corporate identity adalah sesuatu yang disodorkan oleh perusahaan, dan corporate image adalah persepsi khalayak terhadap identitas yang disodorkan.
Logo adalah bagian identitas yang bersifat fisik, sehingga acap disebut sebagai visual identity. Visual identity ini diharapkan dapat memberi makna yang universal melintas batas geografis dan budaya. Logo diharapkan menjadi jendela untuk masuk ke dalam persepsi khalayak. Jadi mendesain logo tidak dapat lagi hanya sekedar imajinasi.

Tahapan yang harus dilewati
1. Identity, apa urgensinya mengubah logo? Misalnya untuk mengubah citra, seperti ketika BNI kesandung kasus lantas mengganti logonya dengan angka 46.
2. Research, yang melibatkan riset internal maupun eksternal. Dalam riset internal digali dimulai dari aspek historis, visi, misi, fiosofi, strategi, sampai budaya perusahaannya. Selanjutnya hasil proses identity dan hasil riset dianalisis dan dituangkan dalam konsep desain, yang akan menjadi patokan dalam pembuatan desain.

Prinsip pembuatan logo adalah :
-Convey the right messages.
Logo yang didesain ini harus dapat menyampaikan pesan yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak. Pemilihan makna, warna, dan bentuk harus sesuai dengan pesan yang ingin dikomunikasikan kepada khalayak. Karena sebuah logo dapat diartikan sebagai big messages in a small space.

-Distinctive
Logo merupakan visualisasi yang unik agar tampak menonjol. Didukung pula oleh simbol/filosofi yang unik untuk membedakan diri dengan kerumunan (stand out from the crowd) sehingga menimbulkan imagery transfer. Dengan keunikan (uniqueness) tersebut khalayak akan langsung mengenal dan tidak lagi berpikir panjang ketika melihat logo ini. Di sini, orisinilitas menjadi penting.

-Legibility
Logo harus dapat dengan mudah dibaca/dipahami, sesuai dengan fungsi logo untuk membungkus identitas dan kepribadian perusahaan. Sehingga dengan melihat sepintas, khalayak memahami makna logo dan perusahann yang diwakilinya.

-Ageless
Logoharus dapat seiring dengan perkembangan perusahaan, sehingga dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama. Perusahaan membutuhkan kestabilan image dalam jangka panjang yang divisualisasikan dalam logo.

-Applicable
Logo harus dapat diaplikasikan ke dalam semua jenis material bisnis secara efektif dan efisien.

Desain yang ditetapkan harus disertai dengan standardisasi dan panduan aplikasinya yang dapat mencapai ratusan dan dituangkan dalam manual.
Posted by sastrosongo at 11:46:21 | Permanent Link | Comments (0) |

“Come to think of it”

 
Definition    : When one considers the matter; on reflection.
Example     : 1) Come to think of it, why not sell coffee from a water cooler?!
                  2) Come to think of it, that road back there was the one we
                      were supposed to take.

AKRAB & INTENS
“Come to think of it”


Seorang eksekutif muda (cowok) tengah berada di sebuah butik, memilih pakaian yang akan dipakai untuk menghadiri sebuah pesta. Sementara di seberang sana, tampak seorang gadis muda juga tengah memilih pakaian. Ketika mata mereka mencari counter lain, keduanya, tanpa sengaja, saling tatap muka. Mereka tanpa hirau. Akhirnya, keduanya tak jadi membeli pakaian dan pulang dengan mobil masing2.

Ditengah jalan, keduanya memutuskan untuk kembali ke butik tersebut. Dalam benak mereka masing2 terpikir, ah kayaknya pakaian yang dilihatnya tadi paling sesuai dengan seleranya. Kebetulan ketika mereka masuk ke butik itu lagi, jalan mereka beriringan (cewek di depan dan cowok di belakang). Mereka menuju counter masing2.


Posted by sastrosongo at 10:36:35 | Permanent Link | Comments (0) |

Digembol Ora Mbedosol

Digembol ora mbedosol, diguwak ora kemrosak (dibawa nggak kelihatan, dibuang nggak kedengaran) adalah sifat sejati dari ilmu pengetahuan.

Paralel dengan hukum Gosen, ketika kita tidak mendapatkan kepuasan saat meminum air pada gelas ke dua, ilmu pengetahuan pun demikian. Makin banyak kita belajar/mengetahuinya makin tak puas rasanya. Semoga coretan saduran saya ini dapat lebih tidak memuaskan Anda. Hehehe.....

J. Walter Thompson (TARGET PLAN)
Di sini dikembangkan strategi merek yang menjawab persoalan sekitar produk yang hendak beriklan. Ada 5 pertanyaan yang perlu dijawab.

- Where are we (Sekarang kita ada di mana?)
- Why are we there (Mengapa kita ada di sana?)
- Where could we be (Sebetulnya kita ada di mana?)
- How could we get there (Bagaimana kita sampai di sana?)
- Are we getting there (Apakah kita sampai ke sana?)

Setelah mengenal strategi merek, proses beranjak kepada target perencanaan. Ada 8 perencanaan yang selalu dibuat sebagai pekerjaan rumah bagi biro iklan, yaitu:

1. Apa yang dibutuhkan?
2. Apa peluang dan permasalahan periklanan yang ingin disampaikan?
3. Apa yang diharapkan dari penyampaian pesan?
4. Apakah yang akan diperoleh dari pemakaian produk itu?
5. Apa pesan tunggal yang ingin kita sampaikan?
6. Untuk penyampaiannya, apa janji yang perlu diberikan?
7. Kalau diposisikan sebagi subyek, produk ini akan seperti apa?
8. Media apa yang perlu dipertimbangkan?
Posted by sastrosongo at 04:40:57 | Permanent Link | Comments (0) |

May 02, 2006

My Way


And now, the end is near,
And so I face the final curtain.
My friends, I'll say it clear;
I'll state my case of which I'm certain.

I've lived a life that's full -
I've travelled each and every highway.
And more, much more than this,
I did it my way.

Regrets? I've had a few,
But then again, too few to mention.
I did what I had to do
And saw it through without exemption.

I planned each charted course -
Each careful step along the byway,
And more, much more than this,
I did it my way.

Yes, there were times, I'm sure you knew,
When I bit off more than I could chew,
But through it all, when there was doubt,
I ate it up and spit it out.
I faced it all and I stood tall
And did it my way.

I've loved, I've laughed and cried,
I've had my fill - my share of losing.
But now, as tears subside,
I find it all so amusing.

To think I did all that,
And may I say, not in a shy way -
Oh no. Oh no, not me.
I did it my way.

For what is a man? What has he got?
If not himself - Then he has naught.
To say the things he truly feels
And not the words of one who kneels.
The record shows I took the blows
And did it my way.
Yes, it was my way.




Posted by sastrosongo at 08:42:04 | Permanent Link | Comments (0) |

UNIQUE SELLING POINT DENOK

“Ah kenapa pula kau pilih Denok?” Pertanyaan ini sudah puluhan kali masuk ke gendang telinga Bony Dumatubun, teman di SMA Yoseph, dulu. Padahal banyak cewek-cewek cakep yang antri dan begitu berharap gayung sambut Bony. Di pemandangan saya, Denok hanyalah gadis sederhana dan nggak ada apa-apanya. Nggak cerdas, cantik atau luwes. Tapi aneh, Bony justru begitu tergila-gila padanya. Ketika saya coba iseng mengonfirmasikan ini kepadanya ia hanya tersenyum simpul. Gile bener! Tak tebersit sedikitpun sebuah keraguan dari wajahnya yang bisa saya tangkap.

Saya merasakan, makin tak bisa bisa memahami jalan pikiran Bony. Betapa tidak. Ia laki-laki yang handsome, pintar, baik hati dan anak galgendhu.(sebutan orang kaya jaman doeloe di Solo) Sumpah! Untuk yang terakhir ini, kalau mau, ia dapat membeli dunia baik yang mati atau yang hidup. Tapi sepanjang pengamatan saya, Bony tetap yang saya kenal dulu. Sederhana dan low-profile dalam arti yang sebenar-benarnya bukan seperti akrobat para pejabat di khazanah kebudayaan kita.( gayanya sok low profile tapi tindakannya batil...ah kok ke luar alur sih?).

Tak tahulah, apakah ada korelasi yang positif dan signifikan antara sikap dan tindak seseorang dengan keputusan memilih seorang teman. Yang jelas, sampai kini, Denok masih menduduki peringkat atas di otak bawah sadar dan otak waras Bony. Ini terlihat dari cara Bony memperlakukan Denok. Di buku hariannya, halaman demi halaman selalu bertengger nama Denok tak habis-habisnya. Tulisannya lumayan sih cuman isinya kidung pujaan melulu.

Ngomong-omong lebih lanjut soal Denok, akhirnya saya dapat menemukan sesuatu yang muskil dan jarang ditemukan pada gadis-gadis lain sepantarnya. Untuk sekedar tahu, saya akhirnya melakukan investigasi secara in cognito yang memaksa saya membuang waktu selama tiga bulan. Ia nggak pelit. Ini tak sulit menjabarkannya. Ketika saya sempat beberapa kali hang out dengannya saya selalu ditraktir, meski dalam perjanjian sayalah yang seharusnya ke luar kocek. Itu pula perlakuan yang dirasakan oleh teman-temannya satu gank. Barangkali julukan yang tepat baginya adalah darmawati. Tapi bukan hanya itu, banyak atribut yang menempel pada dirinya. Baik hati, lembut dan romantis, berani mengatakan tidak, berwawasan luas, teman bicra yang enak, suka pecel dan politik, ekonomi dan sastra. Walah! Pokoknya sesuatu yang langka yang jarang ditemukan pada gadis-gadis kota besar seperti Jakarta.

Inilah barangkali USP yang menjadi daya pikat Denok bagi siapa saja sehingga bisa dipastikan setiap laki-laki yang mendekatnya akan jatuh tertunduk terkulai di pangkuannya. Diam-diam saya jadi ngiri pada Bony. “Pantas saja Boni begitu tergila-gila padanya”, gumam saya lirih menjelang tengah malam.

Sepekan kemudian saya telusuri hampir sebagian besar trotoar kota Jakarta. Tak puas sampai di situ, saya pun lantas mendatangi pusat-pusat keramaian, pertunjukan musik, seminar, dan tentu saja tak lupa ke gereja. Untuk apa? Ya barangkali saja saya bisa menemukan Denok yang lain. Pengin sekali rasanya saya menjodohkan Denok lain dengan Bony yang lain. AH!



Posted by sastrosongo at 07:49:42 | Permanent Link | Comments (0) |

Catatan: SUNDAL

Tangis patah kami laju
membelah malam muram
karantina hidup keras jaman ini.
Para konglomerat sadar
namun terus menjadi sundal
bersetubuh dengan setiap ranum usaha.
Dilahapnya manik-manik setiap harapan
tanpa rasa malu.
Sama sekali jauh dari kata cinta.

Butakah mata,
Tulikah telinga,
Matikah rasa?


Kami dengar gonggong liarmu
di pelataran negeri ini,
merobek malam tidur lelap
kelaparan panjang kami.
Kau isap darah-darah merah kami
kau reguk nikmat dari cinta sejati negeri.

Kami hanya bisa menangis
ketika ibu pertiwi kau cabuli.
Kami hanya bisa mengelus dada
ketika ibu pertiwi kau perkosa.

Kau poles dengan gincu, bedak dan celak
Kau undang cukong-cukong asing
untuk memiliki setiap lekuk tubuhnya.
Kau pertontonkan adegan ranjangmu
di depan mata kami, lantas kau pun lantang berkata:
kamilah penggerak ekonomi nasional
dan pahlawan pembangunan jaman ini.

Bumi tempat kami berpijak bergoyang
oleh dentam-dentam keserakahanmu.
Air sumur kami tak lagi menetes
ketika kau bangun sebuah pabrik.
Air kali teracuni dengan limbah-limbahmu
anak-anak kami kau  affait a compli-kan
ke dalam pabrik-buruh tenaga murah.
Hutan-hutan gundul
tanah-tanah longsor
mengiringi laju ekspormu.

Kau bakar permukiman kumuh
lalu kau dirikan tonggak kokoh
lengkap dengan para anjingmu:
Di sini akan dibangun pabrik,
dilarang masuk, sesuai perda nomor sekian.



Posted by sastrosongo at 04:12:38 | Permanent Link | Comments (0) |